Fenomena Arisan Kurban, Terpaksa atau Dipaksakan?

Baru saja, bangsa Indonesia memperingati Hari Raya Idul Adha, disebut juga dengan hari raya kurban, di mana semua umat muslim berbondong-bondong untuk sholat Iedul Adha secara berjamaah serta mengikuti event rutin setiap tahun yaitu acara penyembelihan hewan kurban.

 

Penyembelihan hewan kurban hukumnya Sunnah Muakad meski ada pula ulama yang menghukumi wajib, di mana setiap orang yang muslim dan mampu seyogyanya berkurban walaupun sekali seumur hidup, karena ajaran ini terdapat dalam Kita Suci Alqur’an dan Hadits Nabi, serta mengikuti sejarah Nabi Ibrahim ketika mendapatkan titah Tuhan untuk menyembelih anaknya.

Berbekal dasar-dasar tersebut di atas, tidak ada alasan lain bagi umat muslim selain melakukan Kurban sebagai wujud pengabdian setinggi-tingginya sebagai hambaNya. Mulai tanggal 10 Dzulhijjah ditambah hari Tasyriq yaitu tanggal 11-13 Dzulhijjah. Dengan hikmah yang dapat diambil agar setiap muslim mau mengorbankan sebagian miliknya untuk diberikan kepada orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an Surat Al Kautsar ayat 2 berbunyi: “maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Apabila mereka mampu melakukannya tapi ternyata lalai dan satu kalipun melakukan hingga ajalnya hendaknya mereka tidak mendekati tempat shalat kami (Hadits Nabi).

Terlepas dari disyariatkannya Qurban bagi umat Islam, yaitu fenomena yang saat ini muncul adalah arisan kurban, di mana satu kelompok perkumpulan membayar uang tertentu dalam kurun waktu tertentu kemudian tepat di hari raya Kurban masing-masing nama dikocok dan nama siapa saja yang keluar maka mereka berhak mendapatkan hewan kurbannya.

Dalam Islam diajarkan kurban adalah bagi yang mampu, dan apabila orang tersebut belum dianggap mampu yaitu memiliki kelapangan rezeki maka secara otomatis aturan ini berlaku mutlak yaitu harus berkurban, beda halnya jika mereka tidak diberikan kelapangan rezeki maka aturan ini pun tidak diwajibkan.

Terkait fenomena Arisan kurban sebenarnya merupakan proses pemaksaan kepada setiap orang agar mau berkurban, dengan konsekuensi meski dalam kekurangan mereka diharuskan membayar arisan tersebut dengan alasan mencukupkan kewajiban berkurban bagi setiap orang Islam, seperti halnya bentuk arisan apapun, di saat orang tersebut harus membayar arisan maka diwajibkan untuk dibayarkan meski kadangkala dalam kondisi musibah dan terjepit masalah ekonomi maka pihak pengelola arisan berupaya menarik bayaran atas kesepakatan bersama. Namun, apakah berkurban itu harus terpaksa atau dipaksakan? Karena seyogyanya berkurban merupakan dorongan hati nurani dan kelebihan rezeki, barang siapa mereka tidak iklash dan memang dalam kondisi sulit apakah tetap dipaksa harus berkorban? Walaupun ada pengecualian bagi mereka yang benar-benar terpanggil berkurban meski mereka seorang pemulung sekalipun maka itu amat baik bagi mereka.

Terlepas dari disyariatkannya Kurban, adanya Arisan kurban, dari sisi positifnya mengajar umat Islam untuk membiasakan dirinya membagikan apa yang mereka miliki kepada orang lain-dapat dibilang tabungan kurban-dengan konsekuensi setiap Hari Raya Kurban pasti ada beberapa ekor hewan yang siap dibagikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat yang dalam kemiskinan akan mendapatkan berkah dari disembelihnya hewan kurban. Namun berbeda kondisinya jika niat beribadah bukan didasarkan atas kerelaan dan keikhlasan karena Allah SWT tentu saja akan berbeda maknanya.

Sisi negatif jika ibadah Kurban dilaksanakan dengan Arisan yaitu apabila tujuh orang dari kelompok yang tergabung dalam arisan kurban ternyata setelah mendapatkan arisan ternyata meninggal dunia secara otomatis mereka telah menanggung hutang terhadap jamaah lain yang belum mendapatkan arisan tersebut. Nah, dari sini ada kekhawatiran di kemudian hari akan muncul reaksi negatif karena tidak terbayarkannya arisan kurban yang sudah dinikmati oleh ketujuh orang yang terlebih dahulu menikmati arisan tersebut.

Akan tetapi berlainan kondisi apabila terjadi kesepakatan jika siapa saja mendapatkan terlebih dahulu arisan kurban maka kewajiban ahli waris untuk membayarkan kewajiban membayar arisan hingga saat yang telah ditentukan sesuai dengan kesepakatan anggota arisan.

Sebagai bagian ibadah yang sunnah namun dianjurkan, adanya arisan kurban merupakan cara masyarakat Islam era kontemporer dalam mengatasi sulitnya masyarakat untuk berkurban. Meskipun bentuk kurban ini masih diperdebatkan akan tetapi dari sisi positifnya justru merangsang orang-orang yang pelit untuk berkurban agar terbiasa berkurban meski harus dipaksa dengan sistem arisan tersebut.

Akan tetapi, semua ibadah musti dilaksanakan dengan niat ikhlas karena ibadah, sehingga apapun yang dilaksanakan bukan karena keterpaksaan agar hasilnya lebih sempurna dan lebih barokah.

sumber : kompasiana


writen by : humas